Virus Lokal Makin Merepotkan
Budi Winoto
(Ist)
INILAH.COM, Jakarta – Tak hanya virus luar negeri, pengguna komputer juga mesti mewaspadai penyebaran virus lokal. Dalam sebelas bulan terakhir saja, terdapat 1.100 varian virus lokal berpotensi menimbulkan kerusakan rendah hingga menghilangkan data penting.
CEO perusahaan keamanan Vaksin.com Alfons Tanujaya mengatakan tiap bulan Vaksin.com rata-rata menerima 100 varian virus lokal baru. Kerusakan yang diakibatkan oleh virus lokal ini bervariasi.
Virus yang serangannya paling parah adalah Kespo yang mengenkripsi data korbannya, sehingga tidak bisa dibaca. Sementara yang agak ringan adalah virus Freemine yang dapat dikategorikan virus baik hati, karena hanya menyembunyikan file korbannya.
“Payload lain yang menjadi standar virus lokal adalah menampilkan pesan, memblok fungsi utility Windows seperti MS Config, regedit, secpol dan melumpuhkan program-program antivirus,” kata Alfons di Jakarta.
Menurut pengamatan Vaksin.com, mayoritas pembuat virus lokal bukan untuk mencari uang. Pembuat virus lokal rata-rata adalah mahasiswa yang sedang belajar pemrograman.
Selain itu, motivasi membuat virus ada yang sekadar iseng untuk mencari pengakuan dari lingkungan atau daerah lain.
Penyebar virus juga ada yang hanya sekadar mengungkapkan masalah pribadi, seperti penyaluran perasaan karena baru putus cinta, atau menghimbau orang untuk cinta negara dan agama. “Ada beberapa yang bahkan melakukan promosi untuk daerahnya seperti virus asal Palangkaraya yang mempromosikan Jembatan Kahayan,” kata Alfons tersenyum.
Rata-rata virus lokal di setiap daerah berbeda, karena sifatnya yang sangat lokal. Seperti virus Cetix yang beredar di Bali juga menyebar di daerah lain. Begitu pula dengan virus Amburadul, dimana penyebaran utama Kalimantan Tengah (Palangkaraya) juga menyebar di wilayah Indonesia yang lain.
Untuk saat ini, dapat dikatakan Pulau Jawa masih menjadi sumber virus paling besar. Ini juga berarti Jawa menjadi wilayah dengan korban penyebaran virus paling tinggi. “Daerah luar Jawa juga tinggi, tetapi mungkin karena populasi yang lebih rendah sehingga persentasenya kurang tinggi,” imbuh Alfons.
Tapi dari segi positifnya, tingginya penyebaran virus lokal, juga berarti kepandaian programmer Indonesia makin diperhitungkan. Alfons mengatakan banyaknya dan meratanya penyebaran virus lokal baru secara tidak langsung, merupakan pemetaan banyak programmer berpotensi di seluruh wilayah Indonesia.
Virus lokal mayoritas masih memanfaatkan bahasa pemrograman Visual Basic walaupun ada beberapa yang menggunakan Delphi atau C. Tetapi itu tidak dapat dipandang enteng karena meskipun under VB, virus mampu melindungi diri dari pemblokiran MSVBVM60.dll.
"Jika dibandingkan dengan virus mancanegara katakanlah ARP Spoofing dari China dan GHP Generic Host Process menurut hemat kami virus lokal masih kalah dari sisi eksploitasi celah keamanan dan kurang memanfaatkan internet dengan optimal," tambah Alfons.
Virus lokal mengeksploitasi penyebaran terutama melalui USB Flash Disk. Cara penyebaran melalui USB Flash Disk ini juga sekaligus merupakan ciri khas virus lokal yang cenderung lokal saja karena tidak banyak yang memanfaatkan internet.
Alfons mengatakan virus yang memanfaatkan USB Flash Disk masih tetap populer dan menduduki peringkat pertama sebagai sarana penyebaran virus. Malah di luar negeri trend virus juga mulai memanfaatkan USB Flash Disk dengan fitur Autorun yang secara otomatis menjalankan virus setiap kali Flash Disk dicolokkan ke komputer.
Saat ini masalah virus kian menjadi perhatian di perusahaan besar. Alfons menghitung salah satu pengeluaran utama sektor TI perusahaan adalah untuk sekuriti. Dan antivirus merupakan peringkat utama dalam belanja sekuriti perusahaan.
Sedangkan di sektor pengguna rumahan, juga terjadi peningkatan yang signifikan dalam penggunaan antivirus resmi. Hal ini dipicu oleh turunnya harga antivirus original.
“Harusnya perkembangan tiap tahun meningkat seiring dengan peningkatan penjualan PC baru. Malahan harusnya lebih tinggi dari penambahan PC baru, karena ada perpanjangan pengguna tahun sebelumnya,” tambah Alfons. [E1]
Tags : virus komputer, alfons tanujaya
Rabu, 03 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar